----------SUGENG RAWUH----------

Kamis, 04 September 2014

Jerome.S.Bruner


1.      Riwayat Jerome Bruner
Jerome. Seymour. Bruner
Jerome seymour bruner yang lahir pada tanggal 1 Oktober 1915 adalah seorang psikolog Amerika Serikat yang memberi andil bagi teciptanya psikologi kognitif dan teori pembelajaran kognitif dalam psikologi pendidikan, sejarah, dan pada filsafat pendidikan umum. Ia adalah seorang peneliti senior di New York University School of Law. Ia menerima gelar BA pada tahun 1937 dari Dake University dan Ph.D dari Harvard University pada 1941 dibawah bimbingan langsung dari gordon Allport.[1]
Jerome Bruner merupakan salah satu psikolog terkenal dan berpengaruh pada abad ke-20. Ia adalah salah satu figur kunci dalam revolusi kognitif dan dari bidang pendidikan inilah pengaruhnya sangat terasa. Bukunya The Process of Education dan Toward a Theory of Intruction telah dibaca banyak kalangan dan diakui sebagai karya klasik. Sedangkan karyanya tentang program kajian sosial, yakni Man; a Course of Study (MACOS) PADA pertengahan 1960-an menjadi penanda dan pelopor dalam perkembangan kurikulum. Ia bahkan menjadi kritis dengan revolusi kognitif dan memandang bahwa bangunan psikologi kultural telah mempertimbangkan secara tepat konteks historis dan sosial dari para peserta pendidikan.[2]
Jerome Bruner yang lahir di New York City ini, selama Perang Dunia II bekerja pada bidang propaganda dan prilaku populer untuk Angkatan Darat Amerika Serikat dimarkas besarnya yang dipimpin oleh jendral Dwight D.Eisenhower di perancis. Setelah menjadi anggota dari sebuah perguruan tinggi, ia bertindak sebagai professor psikologi dan pendiri bersama dan direktur dari Pusat Kajian Kognitif Pada tahun 1972, Jerome Bruner meninggalkan Harvard untuk mengajar selama beberapa tahun di Universitas Harvard sebagai professor tamu pada tahun 1979 dan dua tahun kemudian mengajar di Sekolah baru Untuk penelitian sosial di New York City.[3]

Banyak teori yang sudah diberikan oleh Bruner bagi dunia pendidikan. Ia menjadi salah satu bapak pendiri teori konstruktivisme. Konstruktivisme adalah sebuah kerangka konseptual luar dengan beragam perspektif, dan ia adalah satu-satunya orang yang dapat menjelaskannya[4]
2.      Karya - karya J.S. Bruner
Pada tahun 1996, ia mempubikasikan The Culture Education.Buku ini merefleksikan perubahan – perubahan berbagai sudut pandangnya sejak dekade 1960-an. Ia mengadopsi sudut panjang bahwa budaya membentuk pikiran dan memberikan bahan mentah yang menarik dunia kita dan konsepsi diri kita, Dan dalam The Process of education (1960), ia menegaskan bahwa dengan memberikan metode pengajaran yang tepat, setiap siswa bisa dengan sukses belajar beberapa mata pelajaran pada setiap tahapan perkembangan intelektualnya.[5]
Karya Bruner yang lain adalah The Relevance of Education (1971) yang menerapkan teori – teorinya pada perkembangan anak.[6]
Bruner juga menunjukan perubahan filosofis selama bertahun – tahun. Mengenai perubahan ini, Lynda Malm (1993: 68) menyatakan bahwa buku Jerome Bruner pada tahun 1990, yakni Act of Meaning merupakan sebuah tantangan bagi psikologi psikologi kognitif. Pernyataanya menimbulkan pengaruh bahwa ada sebuah dimensi kehidupan manusia yang signifikan, yaitu dimensi makna yang psikologi kognitifnya tidak bisa di tunjukan.[7]
3.      Proses Belajar Mengajar Menurut Jerome.S.Bruner
Pendirian yang terkenal yang dikemukakan oleh J. Bruner ialah, bahwa setiap mata pelajaran dapat diajarkan dengan efektif dalam bentuk yang jujur secara intelektual kepada setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya. Pendiriannya ini didasarkan sebagian besar atas penelitian Jean Piaget tentang perkembangan intelektual anak. Berhubungan dengan hal itu, antara lain:
Jean Piaget
Perkembangan intelektual anak
Menurut penelitian  J. Piaget, perkembangan intelektual anak dapat dibagi menjadi tiga taraf.
1.      Fase pra-operasional, sampai usia 5-6 tahun, masa pra sekolah, jadi tidak berkenaan dengan anak sekolah. Pada taraf ini ia belum dapat mengadakan perbedaan yang tegas antara perasaan dan motif pribadinya dengan realitas dunia luar. Karena itu ia belum dapat memahami dasar matematika dan fisika yang fundamental, bahwa suatu jumlah tidak berunah bila bentuknya berubah. Pada taraf ini kemungkinan untuk menyampaikan konsep-konsep tertentu kepada anak sangat terbatas.
2.      Fase operasi kongkrit, pada taraf ke-2 ini operasi itu “internalized”, artinya dalam menghadapi suatu masalah ia tidak perlu memecahkannya dengan percobaan dan perbuatan yang nyata; ia telah dapat melakukannya dalam pikirannya. Namun pada taraf operasi kongkrit ini ia hanya dapat memecahkan masalah yang langsung dihadapinya secara nyata. Ia belum mampu memecahkan masalah yang tidak dihadapinya secara nyata atau kongkrit atau yang belum pernah dialami sebelumnya.
3.      Fase operasi formal, pada taraf ini anak itu telah sanggup beroperasi berdasarkan kemungkinan hipotesis dan tidak lagi dibatasi oleh apa yang berlangsung dihadapinya sebelumnya.[8]
Tahap-tahap dalam proses belajar mengajar, Menurut Bruner, dalam proses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:[9]
1.      Tahap informasi (tahap penerimaan materi) Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. “The act of learning. Learning a subject seems to involve three almost simultaneous processes. First there is acquisition of new information - often information that runs counter to or is a replacement for what the person has previously known implicitly or explicitly. At the very least it is a refinement of previous knowledge.”[10](Tindakan pembelajaran. subjek Pembelajaran tampaknya melibatkan tiga proses yang hampir bersamaan. Pertama ada pengambil alihan informasi baru - sering kali informasi itu bertentangan dengan atau pengganti apa yang orang sebelumnya telah diketahui secara implisit maupun eksplisit. Setidaknya itu merupakan penyempurnaan dari pengetahuan sebelumnya).
2.      Tahap transformasi (tahap pengubahan materi) Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual “A second aspect of learning may be called transformation - the process of manipulating knowledge to make it fit new tasks. We learn to "unmask"or analyze information, to order it in a way that permits extrapolation or interpolation or conversion into another form. Transformation comprises the ways we deal with information in order to go beyond it ”..[11](Aspek kedua dari pembelajaran dapat disebut transformasi yaitu proses memanipulasi pengetahuan untuk membuatnya sesuai dengan tugas-tugas baru. Kita belajar untuk "membuka kedok" atau menganalisa informasi, untuk itu cara yang memungkinkan adalah ekstrapolasi atau interpolasi atau konversi ke dalam bentuk lain. Transformasi meliputi cara kita menghadapi informasi dalam rangka melampaui itu).
3.      Tahap evaluasi Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi. “A third aspect of learning is evaluation: checking whether the way we have manipulated information is adequate to the task. Is the generalization fitting, have we extrapolated appropriately ,are we operating properly Often a teacher is crucial in helping with evaluation, but much of it takes place by judgments of plausibility without our actually being able to check rigorously whether we are correct in our efforts.”[12] (Aspek ketiga dari pembelajaran adalah evaluasi: memeriksa apakah cara kita memanipulasi informasi telah memadai untuk tugas. Apakah generalisasi tersebut sesuai, dapatkah kita harus ekstrapolasi dengan tepat, kita beroperasi dengan benar Seringkali seorang guru sangat menentukan dalam membantu dalam evaluasi, tetapi sebagian besar itu dilakukan dengan putusan yang masuk akal tanpa kita benar-benar mampu untuk memeriksa meneliti apakah kita sudah benar dalam upaya kita).


[1] Dina Indriana, mengenal ragam gaya pembelajaran efektif, Jogjakarta: Diva Press,2010, hal 181.
[2] Ibid, hal 182
[3] Ibid,... hal 183
[4] Ibid, hal 184
[5] Ibid, hal 189
[6] Ibid, hal 192
[7] Ibid, hal 193
[8] S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara. 2000,  hal.7-8
[9] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung, PT. Remaja Rosda Karya,  2003, hal.110
[10]Jerome S Bruner, The Process of Education, Cambridge : Harvard University Press, 1977, hal 48
[11] Jerome S Bruner, The Process of Education, Cambridge : Harvard University Press, 1977 hal 48
[12] Jerome S Bruner, The Process of Education, Cambridge: Harvard University Press, 1977 hal 48-49

Batman Begins Background3D Letter R