----------SUGENG RAWUH----------

Minggu, 16 Maret 2014

Riwayat Hidup Al-Ghazali




ilustrasi Imam Ghazali
Nama lengkap Imam Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Ia dikenal sebagai ahli fiqih, kalam, seorang filosof dan seorang yang membawa pembaharu terhadap tafsiran ajaran-ajaran Islam, dan yang berkaitan dengan kemasyarakatan, bahkan juga sebagai tokoh pendidik akhlak bersandar Islam, kemudian mendapat gelar “Hujjatul Islam” karena banyak melakukan pembellaan terhadap Islam.
peta persia
Al-Ghazali dilahirkan di kota Thusia, salah satu kota di negeri Khurosan,  Persia, pada tahun 450 Hijriyah, bertepatan dengan tahun 1058 Masehi. Orang tuanya adalah pengrajin wol sekaligus sebagai pedagang hasil wol. Ia memiliki seorang saudara laki-laki bernama Ahmad. Ia dan saudaranya, oleh ayahnya dititipkan kepada seorang sahabat yang seorang sufi yang ia percaya untuk mengurus pendidikan keduanya, agar pendidikan dua bersaudara ini diteruskan sewafatnya nanti, selama harta peninggalanya masih ada. Wasiat ayah Al-Ghazali dilaksanakan oleh sahabatnya, sampai harta yang ditinggalkannya habis semua. Kemudian kepada keduanya diwasiatkan oleh ayahnya  agar terus belajar semampu mungkin.[1]
buku sumber ilmu
Sejak kecilnya Al-Ghazali memang sangat gemar pada ilmu pengetahuan. Tabiatnya senang mencari hakikat, betapapun kesulitan yang dialaminya, bagaimanapun hambatan yang merintang dan bagaimanapun kesusahan yang dirasakannya, semangatnya tak pernah kendor untuk mencari ilmu pengetahuan. Diantara kata-kata yang pernah diucapkannya tentang dirinya adalah:
“Kehausan untuk mencari hakikat kebenaran sesuatu adalah kebiasaanku dan favorit saya sejak masa kecil dan masa dewasaku, sebagai suatu insting dan sifat dasar yang diberi Allah Ta’ala dalam diriku, bukan merupakan usaha dan rekaan saja…”[2]

Fakta ini penting karena dengan kehausan tersebut, kemudian akan menjadikan latar belakang dan landasan bagi karir intelektualnya di kemudian hari.
Ketika masih kanak-kanak, Al-Ghazali belajar kepada Ahmad Muhammad Al-Radzikani, seorang Faqih di kota Thus. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya kepada Abu Nasr Al-Isma’il di Jurjani sekitar tahun 465 H/1073 M, dan setelah itu ia kembali lagi ke Thus.
Ada riwayat yang menyebutkan bahwa dalam perjalanannya kembali ke Thus ini, ia dihadang oleh komplotan perampok. Bersama temannya ia diserang perampok, barang-barang kebutuhan dan harta yang mereka bawa dirampas semuanya. Koper besar yang berisi buku-buku kebanggaan milik Al-Ghazali, yang berisi hikmah dan ma’rifah juga mereka ambil. Tetapi Al-Ghazali, melalui pihak penengah menyampaikan harapannya agar koper yang berisi buku dikembalikan.[3] Sejak peristiwa itu, menurut riwayat, semua buku yang mereka miliki ia usahakan menguasai isinya, untuk menciptakan rasa tenang dalam dirinya takut jika suatu saat peristiwa yang tak menyenangkan itu terulang kembali.
Setelah itu, Al-Ghazali pindah ke Nisapur. Di sana ia belajar pada salah satu ulama terbesar abadnya, yaitu Al-Juwaini, Imam Al-Haramain yang wafat pada tahun 478 Hijriyah/1085 Masehi. Pada Al-Juwaini, ia belajar ilmu kalam, ilmu ushul, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Ia tampil dengan kecerdasan dan kemampuan berdebat yang sangat menonjol dan ia sanggup mendebat sesuatu yang tidak sesuai dengan penalaran yang jernih. Al-Juwaini sendiri menyebutnya sebagai “Laut dalam nan menenggelamkan (bahrun mughriq)”[4]. Setelah wafatnya al-Juwaini, Al-Ghazali pindah dari Nisapur untuk selanjutnya menuju Nizam Al-Mulk yang ketika itu sebagai menteri Sultan Saljuk.
Pernah terjadi, Al-Ghazali ikut serta dalam perdebatan dengan sekumpulan ulama dan intelek yang dihadiri oleh Nizam Al-Mulk. Berkat penguasaan hikmat, wawasan ilmu yang luas, kelancaran berbahasa dan kekuatan argumentasinya, Al-Ghazali berhasil memenangkan perdebatan ilmiah itu. Kemampuannya itu dikagumi oleh Nizam Al-Mulk, sehingga menteri ini berjanji akan mengangkat menjadi guru besar di Universitas pada sekolah yang didirikan di Baghdad. Rangkaian peristiwa yang bersejarah bagi Al-Ghazali ini terjadi pada tahun 484 Hijriyah atau 1091 Masehi.
peta baghdad
Setelah empat tahun mengajar ia bertekat untuk meninggalkan Baghdad. Tekat itu ia laksanakan dan ia pergi melaksanakan fardu haji, untuk selanjutnya menuju Syam dan tinggal di masjid Jami’ al-Umawy sebagai seorang abdi Tuhan yang saleh. Ia banyak melakukan perjalanan di gurun-gurun pasir guna melatih diri dengan kehidupan zuhud, membuang pola hidup serba kecukupan sambil mendalami arti dari segala kezuhudan serta menenggelamkan diri dalam kehidupan rohani dan renungan agama. Dengan demikian, Al-Ghazali telah mempersiapkan dirinya dengan menggunakan pendekatan agama yang benar, membersihkan diri dari cacat dan cela dunia, sehingga ia menjadi salah satu dari filosof-filosof sufi masa awal, dan salah seorang pembela agama Islam terbesar dari ilmu agama terkemuka. Kemudian setelah menempuh latihan rohani yang besar tersebut, Al-Ghazali kembali ke Baghdad untuk melanjutkan tugas mengajarnya.[5]
ilustrasi pengajar
Sepuluh tahun sesudah kembalinya Al-Ghazali ke Baghdad, ia pergi ke Nisapur. Disana ia mengajar hanya beberapa waktu saja, dan kemudian ia wafat di Thus desa kelahirannya pada tahun 505 H atau 1111 M.[6] Ia meninggal dihadapan adiknya Abu Ahmadi Mujiduddin. Al-Ghazali meninggalkan tiga orang anak perempuan, sedangkan anak laki-lakinya yang bernama Hamid telah meninggal dunia semenjak kecil, karena anak inilah ia diberi gelar “Abu Hamid”.[7]
Demikianlah kehidupan Al-Ghazali bagaikan lingkaran besar yang terakhir pada titik dimana ia mulai. Ia dilahirkan di Thus dan kembali lagi ke sana setelah perjalanan panjang, untuk mengakhiri hayatnya di sana. Kehidupan ilmiahnya, diawali sebagai guru dan mursyid (penasehat) dan diakhiri sebagai guru dan mursyid pula.



[1]Fathiyah Hasan Sulaiman, Aliran-Aliran Dalam Pendidikan (Studi Tentang Aliran Pendidikan Menurut Al-Ghazali), (Semarang: Dina Utama, 1993), hlm. 9.
[2]Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali, (Bandung: P.T. Al-Ma’arif, 1993), hlm. 13.
[3]Fathiyah Hasan Sulaiman, Aliran-Aliran Dalam Pendidikan (Studi Tentang Aliran Pendidikan Menurut Al-Ghazali), op. cit., hlm. 10.
[4]Fathiyah Hasan Sulaiman , Sistem Pendidikan Versi Al-Ghazali, op. cit., hlm. 14.
[5]Ibid., hlm. 15.
[6]Hasyimsyah Nasution, (Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hlm. 79.
[7]Drs. Zainuddin, et. al., Seluk-Beluk Pendidikan Dari Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm.10.

Batman Begins Background3D Letter R